Selamat Datang di Website Resmi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Batusangkar

Mahasiswa PPI Adakan Bedah Buku Konstelasi Electoral dan Keterbelahan Publik


FUADNews, Batusangkar – Dalam rangka meningkatkan minat baca dan diskusi, mahasiswa Jurusan Pemikiran Politik Islam (PPI) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Batusangkar mengadakan kegiatan bedah buku “Konstelasi Electoral dan Keterbelahan Publik”. Kegiatan yang diadakan pada Jumat (25/10) tersebut, menghadirkan langsung penulis buku yaitu Pangi Syarwi Chaniago, S.IP, M.IP.

“Kita dari universitas dan fakultas tentunya sangat mengapresiasi kegiatan-kegiatan diskusi ilmiah seperti ini. Dengan kegiatan ini, kita berharap dapat menumbuhkan kembali minat baca dan diskusi sehingga menghasilkan ide-ide menarik yang berkontribusi bagi bangsa ini. Jangan sampai mahasiswa hanya fokus pada nilai akademik saja,” ungkap Dr. Adripen, M.Pd selaku Dekan FUAD dalam sambutannya.

Adripen juga mendorong jurusan PPI untuk konsisten melakukan kegiatan seperti ini untuk ke depannya. “Mudah-mudah ke depannya jurusan PPI juga dapat menghadirkan penulis-penulis buku politik handal yang dapat memberi banyak ilmu bagi mahasiswa ini,” lanjutnya.


Dalam diskusi tersebut, Pangi yang juga merupakan Direktur VoxPol Center menjelaskan bagaimana telah terjadinya pembelahan di masyarakat pasca Pemilihan Umum (Pemilu) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres), khususnya pada Pilpres 2019 lalu. “Pembelahan ini kan sangat terlihat, ada kubu cebong maupun kampret. Dua kubu ini saling caci dan memaki. Hanya gara-gara beda pilihan, jadinya malah saling memusuhi,” terangnya.


Pangi menyesalkan pembelahan tersebut terjadi. Padahal di tingkat elit sendiri tidak terjadi pembelahan sebesar yang terjadi di dalam masyarakat, bahkan menurutnya, pasca pilpres 2019 elit yang bertikai malah saling mahu membahu dalam membagi kekuasaan. “Akhirnya kan yang rugi masyarakat sendiri. Dulu mati-matian belain jagoannya, eh taunya jagoanya sekarang berkoalisi,” lanjutnya.


Pangi mengingatkan masyarakat agar tidak mati-matian dalam membela suatu pasangan calon, cukup membela dan mencintai sekedarnya. “Intinya jangan mati-matianlah belain jagoan, karena politik ini bicara kepentingan. Yang elit tentunya memikirkan keuntungan yang mereka dapatkan. Yang rugi ya masyarakat bawah,” tutupnya. [] (fajri)

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Youtube

Fanspage